Bullying
03 Aug 2026
Admin Desa
Mahasiswa KKN 59 Universitas Tidar Tanamkan Kesadaran Anti-Bullying kepada Siswa di Dua SD Desa Kleteran
Magelang -- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 59 Universitas Tidar menggelar sosialisasi anti-bullying bagi siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Kleteran dan SDN 3 Kleteran, Desa Kleteran, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Kegiatan yang dilaksanakan pada 21 Juli 2026 di SDN 3 Kleteran dan 24 Juli 2026 di SDN 1 Kleteran ini bertujuan menanamkan kesadaran sejak dini mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perilaku perundungan.
Sosialisasi dilaksanakan pada jam belajar, mulai pukul 07.30 hingga 09.30 WIB, dengan melibatkan sekitar 60 siswa kelas IV, V, dan VI di SDN 3 Kleteran serta sekitar 180 siswa di SDN 1 Kleteran. Kegiatan mendapat sambutan positif dari pihak sekolah yang mendukung penuh pelaksanaan program, terlebih karena bertepatan dengan masa pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sehingga materi yang diberikan dinilai relevan untuk membentuk karakter peserta didik sejak awal tahun ajaran.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pihak sekolah bersama Tim KKN 59 Universitas Tidar. Selanjutnya, mahasiswa menyampaikan materi mengenai pengertian bullying, berbagai bentuk perundungan yang sering terjadi di lingkungan sekolah, dampak yang ditimbulkan bagi korban maupun pelaku, serta langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan siswa untuk mencegah dan menghentikan perilaku bullying.
Agar materi mudah dipahami oleh anak-anak, penyampaian dilakukan secara interaktif menggunakan presentasi yang dikombinasikan dengan video animasi edukatif. Selain itu, mahasiswa juga menyisipkan berbagai aktivitas seperti ice breaking, permainan edukatif, sesi diskusi, tanya jawab, serta kuis berhadiah yang mampu meningkatkan partisipasi siswa selama kegiatan berlangsung.
Suasana pembelajaran berlangsung meriah. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap sesi, terutama ketika memasuki permainan dan kuis. Banyak siswa berlomba-lomba mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan, sementara guru yang mendampingi turut memberikan dukungan dan semangat sehingga kegiatan berlangsung dengan tertib namun tetap menyenangkan.
Tidak hanya menerima materi, para siswa juga diajak memahami bahwa tindakan yang sering dianggap sebagai candaan ternyata dapat termasuk perilaku bullying apabila menyakiti perasaan atau merugikan orang lain. Melalui contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, siswa didorong untuk lebih menghargai teman, berani menolak tindakan perundungan, serta berani melapor kepada guru apabila melihat atau mengalami bullying di lingkungan sekolah.
Sebagai bentuk penguatan nilai yang telah dipelajari, seluruh peserta kemudian mengikuti pembacaan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk bullying. Momen ini menjadi penutup kegiatan sekaligus simbol komitmen siswa dalam menciptakan budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, dan menjaga lingkungan sekolah yang aman bagi seluruh warga sekolah.
Tim KKN 59 Universitas Tidar menyampaikan bahwa sosialisasi ini merupakan salah satu upaya preventif dalam membangun karakter positif anak sejak usia sekolah dasar. Menurut mereka, edukasi mengenai bullying perlu diberikan secara berkelanjutan karena anak-anak merupakan kelompok yang rentan, baik sebagai korban, pelaku, maupun saksi tindakan perundungan.
"Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa tidak hanya memahami apa itu bullying, tetapi juga memiliki keberanian untuk menghentikan perilaku tersebut dan membangun kebiasaan saling menghargai di lingkungan sekolah. Kami ingin menanamkan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi setiap anak," ujar Akbar Masrukhan salah satu Tim KKN 59 Universitas Tidar.
Melalui pendekatan edukatif yang interaktif dan menyenangkan, kegiatan ini berhasil meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Antusiasme peserta selama mengikuti materi, aktifnya siswa dalam sesi diskusi dan tanya jawab, serta komitmen bersama yang diikrarkan pada akhir kegiatan menjadi indikator positif bahwa edukasi mengenai anti-bullying dapat diterima dengan baik oleh anak-anak.
Program sosialisasi anti-bullying ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya sekolah yang lebih inklusif, saling menghormati, dan bebas dari perundungan, sehingga peserta didik dapat tumbuh dalam lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter mereka.
Sosialisasi dilaksanakan pada jam belajar, mulai pukul 07.30 hingga 09.30 WIB, dengan melibatkan sekitar 60 siswa kelas IV, V, dan VI di SDN 3 Kleteran serta sekitar 180 siswa di SDN 1 Kleteran. Kegiatan mendapat sambutan positif dari pihak sekolah yang mendukung penuh pelaksanaan program, terlebih karena bertepatan dengan masa pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sehingga materi yang diberikan dinilai relevan untuk membentuk karakter peserta didik sejak awal tahun ajaran.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pihak sekolah bersama Tim KKN 59 Universitas Tidar. Selanjutnya, mahasiswa menyampaikan materi mengenai pengertian bullying, berbagai bentuk perundungan yang sering terjadi di lingkungan sekolah, dampak yang ditimbulkan bagi korban maupun pelaku, serta langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan siswa untuk mencegah dan menghentikan perilaku bullying.
Agar materi mudah dipahami oleh anak-anak, penyampaian dilakukan secara interaktif menggunakan presentasi yang dikombinasikan dengan video animasi edukatif. Selain itu, mahasiswa juga menyisipkan berbagai aktivitas seperti ice breaking, permainan edukatif, sesi diskusi, tanya jawab, serta kuis berhadiah yang mampu meningkatkan partisipasi siswa selama kegiatan berlangsung.
Suasana pembelajaran berlangsung meriah. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap sesi, terutama ketika memasuki permainan dan kuis. Banyak siswa berlomba-lomba mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan, sementara guru yang mendampingi turut memberikan dukungan dan semangat sehingga kegiatan berlangsung dengan tertib namun tetap menyenangkan.
Tidak hanya menerima materi, para siswa juga diajak memahami bahwa tindakan yang sering dianggap sebagai candaan ternyata dapat termasuk perilaku bullying apabila menyakiti perasaan atau merugikan orang lain. Melalui contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, siswa didorong untuk lebih menghargai teman, berani menolak tindakan perundungan, serta berani melapor kepada guru apabila melihat atau mengalami bullying di lingkungan sekolah.
Sebagai bentuk penguatan nilai yang telah dipelajari, seluruh peserta kemudian mengikuti pembacaan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk bullying. Momen ini menjadi penutup kegiatan sekaligus simbol komitmen siswa dalam menciptakan budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, dan menjaga lingkungan sekolah yang aman bagi seluruh warga sekolah.
Tim KKN 59 Universitas Tidar menyampaikan bahwa sosialisasi ini merupakan salah satu upaya preventif dalam membangun karakter positif anak sejak usia sekolah dasar. Menurut mereka, edukasi mengenai bullying perlu diberikan secara berkelanjutan karena anak-anak merupakan kelompok yang rentan, baik sebagai korban, pelaku, maupun saksi tindakan perundungan.
"Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa tidak hanya memahami apa itu bullying, tetapi juga memiliki keberanian untuk menghentikan perilaku tersebut dan membangun kebiasaan saling menghargai di lingkungan sekolah. Kami ingin menanamkan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi setiap anak," ujar Akbar Masrukhan salah satu Tim KKN 59 Universitas Tidar.
Melalui pendekatan edukatif yang interaktif dan menyenangkan, kegiatan ini berhasil meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Antusiasme peserta selama mengikuti materi, aktifnya siswa dalam sesi diskusi dan tanya jawab, serta komitmen bersama yang diikrarkan pada akhir kegiatan menjadi indikator positif bahwa edukasi mengenai anti-bullying dapat diterima dengan baik oleh anak-anak.
Program sosialisasi anti-bullying ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya sekolah yang lebih inklusif, saling menghormati, dan bebas dari perundungan, sehingga peserta didik dapat tumbuh dalam lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter mereka.